Hampir setiap minggu aku melewati pinggiran danau singkarak dari solok menuju bukittinggi, kadang pake motor, kadang menggunakan angkutan umum (bis) sekali sekali mobil pribadi (mobil anak atau famili). Pemandanan dan view yg indah dan menawan menghilangkan kejenuhan duduk diatas mobil.
Ku share hasil jepretan ku smg bisa bermanfaat dan di nikmati oleh yg melihatnya. Salaam
Pagi hari lebih indah pemandangannya..
Sangat2 indah. Kalo ke sumatera barat wajib mampir, :)
Sangat rugi bila anda tidak singga kedanau singkarak.bila anda kesumbar.
Sejarah propinsi Sumatera Barat menjadi lebih terbuka sejak masa pemerintahan Adityawarman. RaÂja ini cukup banyak meninggalkan prasasti mengenai dirinya, walaupun dia tidak pernah mengatakan dirinya sebagai Raja Minangkabau. AdityaÂwarman memang pernah memerintah di Pagaruyung, suatu negeri yang diÂpercayai warga Minangkabau sebagai pusat kerajaannya.
Adityawarman adalah tokoh penÂting dalam sejarah Minangkabau. Di samping memperkenalkan sistem peÂmerintahan dalam bentuk kerajaan, dia juga membawa suatu sumbangan yang besar bagi alam Minangkabau. KonÂtribusinya yang cukup penting itu adalah penyebaran agama Buddha. Agama ini pernah punya pengaruh yang cukup kuat di Minangkabau. TerÂbukti dari nama beberapa nagari di Sumatera Barat dewasa ini yang berbau Budaya atau Jawa seperti Saruaso, PaÂriangan, Padang Barhalo, Candi, BiaÂro, Sumpur, dan Selo.
Sejarah Sumatera Barat sepeÂninggal Adityawarman hingga perteÂngahan abad ke-17 terlihat semakin kompleks. Pada masa ini hubungan SuÂmatera Barat dengan dunia luar, terÂutama Aceh semakin intensif. SumateÂra Barat waktu itu berada dalam dominasi politik Aceh yang juga memoÂnopoli kegiatan perekonomian di daeÂrah ini. Seiring dengan semakin intenÂsifnya hubungan tersebut, suatu nilai baru mulai dimasukkan ke Sumatera Barat. Nilai baru itu akhimya menjadi suatu fundamen yang begitu kukuh melandasi kehidupan sosial-budaya masyarakat Sumatera Barat. Nilai baru tersebut adalah agama Islam.
Syekh Burhanuddin dianggap sebagai peÂnyebar pertama Islam di Sumatera Barat. Sebelum mengembangkan agaÂma Islam di Sumatera Barat, ulama ini pernah menuntut ilmu di Aceh
Sejarah propinsi Sumatera Barat menjadi lebih terbuka sejak masa pemerintahan Adityawarman. RaÂja ini cukup banyak meninggalkan prasasti mengenai dirinya, walaupun dia tidak pernah mengatakan dirinya sebagai Raja Minangkabau. AdityaÂwarman memang pernah memerintah di Pagaruyung, suatu negeri yang diÂpercayai warga Minangkabau sebagai pusat kerajaannya.
Adityawarman adalah tokoh penÂting dalam sejarah Minangkabau. Di samping memperkenalkan sistem peÂmerintahan dalam bentuk kerajaan, dia juga membawa suatu sumbangan yang besar bagi alam Minangkabau. KonÂtribusinya yang cukup penting itu adalah penyebaran agama Buddha. Agama ini pernah punya pengaruh yang cukup kuat di Minangkabau. TerÂbukti dari nama beberapa nagari di Sumatera Barat dewasa ini yang berbau Budaya atau Jawa seperti Saruaso, PaÂriangan, Padang Barhalo, Candi, BiaÂro, Sumpur, dan Selo.
Sejarah Sumatera Barat sepeÂninggal Adityawarman hingga perteÂngahan abad ke-17 terlihat semakin kompleks. Pada masa ini hubungan SuÂmatera Barat dengan dunia luar, terÂutama Aceh semakin intensif. SumateÂra Barat waktu itu berada dalam dominasi politik Aceh yang juga memoÂnopoli kegiatan perekonomian di daeÂrah ini. Seiring dengan semakin intenÂsifnya hubungan tersebut, suatu nilai baru mulai dimasukkan ke Sumatera Barat. Nilai baru itu akhimya menjadi suatu fundamen yang begitu kukuh melandasi kehidupan sosial-budaya masyarakat Sumatera Barat. Nilai baru tersebut adalah agama Islam.
Syekh Burhanuddin dianggap sebagai peÂnyebar pertama Islam di Sumatera Barat. Sebelum mengembangkan agaÂma Islam di Sumatera Barat, ulama ini pernah menuntut ilmu di Aceh