When you're in Pariaman, West Sumatra. Don't forget to visit this nice beach one
Very good.
Baru sekali kepantai Gandoriah, salahsatu obyek wisata pantai kota Pariaman, bersih, dan masih terlihat baru (sperti baru selesai direnovasi). Monumen perjuangan yang bagus. Sayang sarana MCK tidak terawat dan banyaknya pedagang yang kurang memperhatikan sampahnya. Perlunya perhatian semua pihak, dalam menjaga lingkungan. Dan pembenahan sarana dan prasarananya. Agar tetap menjadi wisata pantai idaman.
Pantai nya bagus,tempat yg cocok untuk rekreasi
Pantai ini merupakan destinasi wisata pariaman dengan keelokan pemandangannya. Disini banyak penjual yang menyediakan tempat duduk serta payung untuk menikmati indahnya pantai sambil memandang pulau angso duo. Wahh ingat masa lalu. Pulau angso duo begitu indah dan menawan. Terakhir saya bayar 35rb untuk pulang pergi naik kapal kayu menuju pulau ini. Pasirnya putih dan lembut
beberapa kali saya pernah datang ke pantai ini,ibu saya yang orang pariaman dan pas pulang ke pariaman pasti saya sepmpatkan datang kesini,tempatnya indah ombaknya lumayan besar sehingga kita harus berhati" jika ada di pinggir pantai.ada satu acara yang sangat ingin saya lihat disini tapi belum ada kesempatan.acaranya biasanya bertepatan dengan maulid nabi kalo gak salah namanya manabuih,saya berharap saya bisa melihat keseruan acara ini.
Pantai nya bagus n bisa kepulau angso duo
Pantai yang nyaman dan indah. dengan naik kendaraan laut, anda bisa berkunjung ke beberapa pulau kecil yang mungil. antara lain PULAU ANGSO DUO.
Asal-usul nama Pantai Gandoriah memiliki kisah tersendiri. Gandoriah merupakan nama seorang gadis dalam cerita rakyat Minangkabau. Menurut Kabid Pemasaran dan Kerjasama Pariwisata Kota Pariaman, Asnul Nazar, kisah ini sudah semakin jarang diketahui masyarakat, kecuali oleh kalangan sesepuh masyarakat. Kisah tersebut menceritakan perjalanan cinta seorang pemuda bernama Anggun Nan Tongga dengan Puti Gandoriah, yang tak lain adalah sepupunya.
Dikisahkan, Anggun Nan Tongga pergi berlayar untuk menemukan tiga mamaknya (paman) yang tidak kunjung pulang dari perantauan. Dalam perjalanan yang melewati banyak rintangan, Nan Tongga berhasil menemukan pamannya satu per satu. Karena pengkhianatan salah seorang teman yang lebih dahulu kembali ke kampung halamannya, Puti Gandoriah menyangka kekasihnya telah meninggal.
Dalam kesedihannya, Puti Gandoriah memutuskan bersemedi di Gunung Ledang. Kisah ini pun berakhir tragis saat Nan Tongga dan Puti Gandoriah bertemu kembali tetapi harus menerima kenyataan bahwa mereka berdua adalah saudara sepersusuan yang tidak boleh saling menikah.
Nan Tongga dalam cerita rakyat tersebut dikemudian hari dijadikan nama sebuah hotel di tepi Pantai Pariaman, yang merupakan hotel tertua di kota ini. Keberadaan hotel ini menjadi inspirasi nama pantai oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Padang Pariaman saat itu.
Menurut Bapak Murad Masri, Kepala Dinas pariwisata periode 1983-1995, awalnya ada tiga opsi penamaan yaitu, Piaman Indah, Angso Duo, dan Gandoriah. Dari ketiga opsi tersebut, akhirnya nama Gandoriah yang dipilih dan diresmikan sebagai nama pantai ini pada masa pemerintahan Bupati Zainal Bakar (1990-1994).
Panorama laut memang menjadi salah satu keunggulan utama pantai ini. Di lepas pantai setidaknya terdapat gugusan 6 pulau kecil yang terlihat bagaikan menghias cakrawala. Keenam pulau itu adalah Pulau Kasiak, Pulau Angso, Pulau Tangah, Pulau Ujung, Pulau Gosong dan Pulau Bando.
Selain dapat dinikmati sebagai bagian dari panorama lautnya, sebagian besar pulau ini dapat disinggahi dengan waktu tempuh perjalanan sekitar 20 menit perjalanan.
Disamping menikmati keindahan panoramanya, pantai ini juga menyajikan berbagai aktivitas rekreasi laut yang bisa menjadi pilihan saat liburan. Diantaranya, renang, selancar, dan beraneka jenis olah raga pantai lainnya. Sayangnya, fasilitas-fasilitas rekreasi tersebut sebagian hanya tersedia pada saat akhir pekan dan musim liburan saja.
Keunggulan yang dimiliki Pantai Gandoriah juga didukung oleh aksesnya yang strategis. Posisinya yang berada di pusat kota, menjadikan akses transportasi umum seperti angkot dan bus antar kota tidak terlalu sulit kita temukan di sini.
Selain itu, terdapat jalur kereta yang menghubungkan langsung pantai ini dengan Kota Padang. Bahkan, posisi stasiunnya pun tepat berada di depan gerbangnya. Tidak heran jika PT. KAI pun kemudian menghadirkan rute perjalanan kereta wisata jurusan Padang-Pariaman yang beroperasi setiap akhir pekan.
Menurut catatan dinas pariwisata setempat, intensitas kunjungan wisatawan ke pantai ini relatif tinggi, khususnya pada event-event budaya seperti Festival Tabuik.
Setiap tahunnya, pantai ini memang menjadi lokasi penyelenggaraan acara puncak tradisi tabuik, yaitu saat pembuangan tabuik ke laut. Karenanya, jika saat momentum tersebut tiba, pantai ini berubah menjadi lautan manusia yang datang dari berbagai penjuru Sumatera Barat. [Ardee/IndonesiaKaya]
Gk pernah bosan ke pantai ini, seru itu kalo pergi nya naik mak itam (kereta api) tapi sayang jam mainnya jadi terikat sama jam balik dan lagi ngantri juga beli tiket balik, pantainya bersih, mau makan banyak pilihan yang enak tu kalo makannya nasi kuciang di gubuak salero ( joss banget) trus beli sala lauk sambil duduk di tepi pantai berpayung2 ria. Liburan sederhana murah meriah 😄😄
Pantainya baguuuussss sekali 👍
So far main ke sini menyenangkan. Bersih. Sayangnya belum ada kejelasan mengenai cara menuju angso duo