Disebut Atu Tingok karena keberadaan beberapa bongkah batu besar yang teronggok di kawasan Bur Telege (sekarang banyak disebut Bur Gayo dan sempat disebut Bur Peteri Bensu).
Atu Tingok tersebut berada dibagian gunung yang sangat miring dan terjal dengan ukuran sekitar 4 x 3 meter agak menonjol keluar seperti tersangkut saja sehingga bagi pengunjung yang ingin berdiri diatasnya akan merasa was-was, khawatir akan menjadi beban bagi batu tersebut dan terguling ke bawah.
Dari Atu Tingok akan tampak hamparan luas kota Takengon.
Angin sepoi-sepoi menerpa daun-daun pinus menyuguhkan musik alam ditingkahi suara burung-burung kecil serta lengkingan suara burung elang. Saat berkunjung kesana, malah ada seekor elang berwarna keputihan yang lazim disebut warga Gayo sebagai Kalang Siki meliuk-liuk di udara.
Dengan kenderaan roda empat, pengunjung dapat dengan aman memarkirnya di jalan terpuncak tanjakan persisnya di sekitar Telege (Gayo : sumur) Bur Gayo. Keberadaan sumur di puncak gunung membuat nama pegunungan ini disebut Bur Telege. Nama ini kemudian berubah menjadi Bur Gayo, tahun 1986 silam PT. KKA (Persero) bersama Pemkab setempat melakukan penanaman pohon Pinus yang sengaja membentuk tulisan “Gayo”. Pohon-pohon yang turut ditanam oleh Presiden RI Jokowi saat dia menjadi karyawan PT.KKA ini untuk beberapa tahun nampak jelas terbaca dari kota Takengon tentu saat pohon-pohon tersebut masih kecil.
Mengasyikkan perjalanan menuju Bur Telege, seluruh sisi kota Takengon dan saat tiba di punggung Bur Telege akan dapat dinikmati panorama perkampungan Pedemun dan teluk One-one yang dipenuhi dengan keramba jaring apung milik warga yang diperindah dengan baground Bur Birah Panyang, sebuah gunung yang paling khas dan indah yang memagari danau Lut Tawar dengan hamparan sawah dikakinya.
Mencapai Atu Tingok, dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar setengah kilometer. Bisa dipilih menapaki tangga beton atau di jalan tanah. Pengunjung dapat beristirahat sekitar grafiti yang dibangun Pemerintah Aceh bertuliskan “Gayo Highland” yang berdampingan dengan tulisan Tanoh Gayo yang dibangun Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah tahun 2014.
Perjalanan menjadi agak sulit di 50 meter terakhir, Akan tetapi ketidakramahan suasana perjalanan yang hanya puluhan meter tersebut dipastikan akan hilang saat anda berada di Atu Tingok. Berjuta rasa keindahan akan segera membuai dan membuat kita terbius untuk betah berlama-lama. Kesal, jika anda tidak membawa kamera.
Tugu Perdamaian DI-TNI
Anda juga akan mendapati sebuah bangunan monumen atau tugu di sekitar Atu Tingok.
Monumen ini dibangun oleh Gubernur Aceh saat itu H Ali Hasymi dan menamai kawasan Atu Tingok dengan Bur Peteri Bensu.
Bagi peminat hiking, perjalanan dari Atu Tingok bisa dilanjutkan menuju Ujung Baro, lokasi hotel Renggali Takengon dengan menyusuri punggung bukit. Butuh sarung tangan dan baju lengan panjang jika tidak ingin terluka akibat semak berduri karena belum ada jalan resmi disana. Sangat dianjurkan untuk membawa golok untuk membuka jalur serta lotion untuk perlindungan dari serangan Pacat yang menunggu segarnya darah anda.
Jalur lainnya menuju teluk One-one tanpa harus melewati jalan semula. Dengan jalan tanah sekitar 2 kilometer akan langsung menikmati kopi Gayo, gorengan hangat serta ikan bakar di cafe-cafe dipinggiran danau. Untuk jalur ini, semenatara hanya bisa dilalui dengan kenderaan roda dua, sepeda atau berjalan kaki.
Jika ingin melihat-lihat suasana danau, perjalanan bisa dilanjutkan menuju timur dan keliling danau dengan jarak tempuh sekitar 46 kilometer. Dan jika ingin kembali ke kota Takengon, tinggal belok kiri saja. Tak sampai 2 kilometer akan tiba kembali di pusat kota berhawa dingin tersebut.
Perjalanan lintas Bur Gayo alias Atu Tingok atau Burni Peteri Bensu sering dijadikan sebagai lokasi hiking warga Takengon dan track favorit para pecinta sepeda gunung baik tipe Xcross Country (XC) maupun Down Hill (DH) juga pehobi fotografi mengabadikan rangkaian panorama tersebut.[lintasgayo.co]
Mantap extremely
Indah, tapi harus hati2 untuk selfie dari lokasi ini.